Kitab klasik mengungkap peran penting perempuan sebagai ulama dan waliyullah yang sering terlupakan.
SEJARAH – Dalam sejarah Islam, nama-nama ulama besar yang sering dikenal publik memang didominasi oleh kaum laki-laki. Namun, fakta menarik terungkap dari literatur klasik bahwa perempuan juga memiliki peran besar sebagai ulama, ahli ibadah, bahkan mencapai derajat waliyullah.
Salah satu rujukan penting adalah kitab At-Tabaqat al-Kubra yang ditulis oleh Abdul Wahhab as-Sya'rani. Dalam kitab tersebut disebutkan sejumlah tokoh perempuan yang dikenal karena ketakwaan, keilmuan, dan kedekatan mereka kepada Allah.
Deretan Ulama dan Waliyullah Perempuan
Beberapa nama yang tercatat antara lain:
- •• Mu’adzah al-‘Adawiyah
- •• Rabi'ah al-Adawiyah
- •• Majidah al-Qurasyiyah
- •• Sayyidah Aisyah binti Ja’far ash-Shadiq
- •• Istri Rabah al-Qisyi
- •• Fatimah an-Naisaburiyah
- •• Rabi’ah binti Ismail
- •• Ummu Harun
- •• Umrah istri Hubaib
- •• Amatul Jalil
- •• ‘Ubaidah binti Abi Kilab
- •• Chufairah al-Abidah
- •• Sya’wanah
- •• Aminah ar-Romliyah
- •• Manfusah binti Zaid
- •• Sayyidah Nafisah
Mereka dikenal bukan hanya sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai guru spiritual bagi banyak ulama besar pada masanya.
Keteladanan dalam Ibadah dan Zuhud
Kisah-kisah mereka menunjukkan tingkat ketakwaan yang luar biasa. Mu’adzah al-‘Adawiyah, misalnya, dikenal tidak pernah tidur lama karena takut wafat dalam keadaan lalai. Ia bahkan disebut melaksanakan ratusan rakaat shalat dalam sehari semalam.
Sementara itu, Rabi'ah al-Adawiyah menjadi simbol cinta ilahi. Ia menolak dunia dan memilih hidup dalam kesederhanaan, serta dikenal dengan ungkapan spiritualnya yang mendalam tentang keikhlasan dan cinta kepada Allah.
Fatimah an-Naisaburiyah bahkan disebut sebagai guru oleh ulama besar seperti Dzul Nun al-Misri, menunjukkan bahwa perempuan juga menjadi rujukan keilmuan pada masa itu.
Dihormati Para Ulama Besar
Beberapa ulama perempuan ini juga memiliki hubungan langsung dengan tokoh besar Islam. Sayyidah Nafisah, misalnya, dikenal sebagai sosok alim yang dihormati oleh Imam Syafi'i. Bahkan, beliau disebut sering mengunjungi Sayyidah Nafisah dan melaksanakan shalat di tempatnya saat berada di Mesir.
Begitu pula Aminah ar-Ramliyah yang doanya diminta oleh Imam Ahmad bin Hanbal, menunjukkan kedudukan spiritualnya yang tinggi di mata para ulama.
Bukti Peran Perempuan dalam Tradisi Keilmuan Islam
Kisah-kisah ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kontribusi nyata dalam sejarah keilmuan dan spiritualitas Islam. Mereka tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga pelopor dalam dunia tasawuf, ibadah, dan pendidikan ruhani.
Meski tidak selalu populer dalam narasi arus utama, keberadaan mereka tetap tercatat dalam kitab-kitab klasik sebagai inspirasi lintas zaman.
Penutup
Keberadaan ulama perempuan ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju ilmu dan kedekatan kepada Allah terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin. Warisan mereka menjadi inspirasi penting, khususnya bagi generasi Muslimah masa kini untuk terus menuntut ilmu dan memperkuat spiritualitas.
Wallahu a’lam.

