Khenduri Jirat di Gampong Meunasah Ara, Momentum Pulang Kampung dan Pererat Silaturahmi
Meunasah Ara - Tradisi khenduri jirat yang digelar setiap hari raya ke-10 Idul Fitri di Gampong Meunasah Ara tidak hanya menjadi kegiatan ziarah kubur, tetapi juga momen istimewa untuk mempererat hubungan kekeluargaan.
Pada kesempatan tersebut, warga yang telah lama merantau, pindah tempat tinggal, maupun yang telah berkeluarga di luar kampung, turut pulang ke gampong halaman. Kehadiran mereka menambah suasana haru dan kebahagiaan, karena dapat kembali berkumpul bersama sanak saudara dan keluarga besar.
Salah satunya adalah seorang perantau ke negeri jiran Malaysia sebut saja Yah Sigam. Ia mengaku sangat senang dan terharu bisa kembali ke kampung halaman serta mengikuti tradisi tersebut. “Saya sangat rindu suasana seperti ini. Di perantauan tidak ada kebersamaan seperti di kampung. Khenduri jirat ini membuat saya merasa kembali dekat dengan keluarga dan kampung halaman,” ungkapnya dengan haru.
Sejak pagi, masyarakat bersama-sama melaksanakan ziarah ke pemakaman umum, membersihkan makam, membaca yasin serta memanjatkan doa untuk para leluhur. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.
Usai prosesi doa bersama, warga melanjutkan kegiatan dengan kenduri makan bersama.
Dalam pelaksanaannya, setiap warga membawa hidangan dari rumah masing-masing. Makanan tersebut kemudian dikumpulkan di satu tempat sebagai bentuk partisipasi bersama. Hidangan yang telah dikumpulkan tadi dibagikan kembali kepada seluruh masyarakat untuk dinikmati bersama-sama.
Momen makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan tanpa sekat. Seluruh warga, baik yang menetap di gampong maupun yang pulang dari perantauan, duduk bersama menikmati hidangan yang ada. Suasana kekeluargaan begitu terasa, mempererat hubungan antar sesama serta memperkuat rasa persatuan.
Tokoh masyarakat setempat yang menyebut nama nya (mak isa) menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi besar bagi warga Meunasah Ara. “Banyak keluarga yang jarang bertemu, namun melalui kenduri jirat ini mereka bisa berkumpul kembali, saling bermaafan, dan mempererat hubungan kekeluargaan,” ujarnya.
Menariknya, tradisi khenduri jirat ini tidak hanya dilakukan di Gampong Meunasah Ara, tetapi juga menjadi budaya yang hidup di berbagai daerah di Aceh. Hampir seluruh masyarakat Aceh memiliki kebiasaan serupa, menjadikannya sebagai salah satu warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
Dengan nilai gotong royong, kebersamaan, dan religius yang kuat, khenduri jirat tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh hingga saat ini.

