Hukum Qurban untuk Orang Lain dan Orang yang Sudah Meninggal dalam Pandangan Ulama Mazhab Syafi’i


 

Hukum Qurban untuk Orang Lain dan Orang yang Sudah Meninggal dalam Pandangan Ulama Mazhab Syafi’i

Menjelang Hari Raya Iduladha, persoalan mengenai hukum berqurban untuk orang lain kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat ingin menghadiahkan pahala qurban kepada keluarga, kerabat, bahkan orang tua yang telah wafat. Namun bagaimana sebenarnya pandangan ulama fikih mengenai hal tersebut?

Para ulama Mazhab Syafi’i telah menjelaskan persoalan ini secara rinci dalam berbagai kitab mu’tabarah dengan menyandarkan penjelasan mereka kepada hadis-hadis Rasulullah SAW serta kaidah-kaidah fikih.

Pendapat Para Ulama Tentang Qurban untuk Orang Lain

1. Imam An-Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin

Imam An-Nawawi menjelaskan:

“Tidak melakukan qurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa izinnya dan tidak pula untuk orang yang sudah meninggal apabila tidak mewasiatkannya.”

Keterangan ini menjadi dasar penting dalam Mazhab Syafi’i bahwa qurban merupakan ibadah yang berkaitan langsung dengan niat dan pelaksanaannya sehingga tidak boleh dilakukan atas nama orang lain tanpa izin.

Kemudian Imam Qalyubi, ketika menjelaskan pendapat Imam An-Nawawi, memberikan pengecualian bahwa wali diperbolehkan berqurban dari hartanya sendiri untuk orang yang berada di bawah pengampuannya, dan hal tersebut dihukumi sah.

Penjelasan Ibnu Hajar al-Haitami

Ulama besar Mazhab Syafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

“Namun demikian bagi wali yaitu ayah atau kakek, tidak lainnya, boleh melaksanakan qurban untuk mauliyahnya (orang yang berada di bawah perwaliannya) dari hartanya sendiri.”

Pendapat ini menunjukkan adanya keringanan bagi orang tua atau wali untuk melaksanakan qurban bagi anak-anak atau orang yang berada dalam tanggungannya.

Keterangan Imam Qalyubi

Imam Qalyubi juga menjelaskan:

“Disunnahkan dari harta seseorang berqurban untuk anaknya, namun tidak disunnahkan untuk janin.”

Hal ini menunjukkan perhatian syariat terhadap hubungan kekeluargaan dalam ibadah qurban.

Penjelasan Imam Ibrahim al-Bajuri

Imam Ibrahim al-Bajuri berkata:

“Tidak boleh melaksanakan qurban untuk orang lain tanpa seizinnya kecuali qurban untuk ahli baitnya atau wali dari hartanya untuk mauliyahnya ataupun imam (pemimpin negara) dari baitulmal untuk kaum muslimin. Adapun dengan seizinnya walau untuk orang yang sudah meninggal adalah boleh.”

Pendapat ini mempertegas bahwa izin menjadi unsur penting dalam pelaksanaan qurban atas nama orang lain.

Penjelasan Khatib Syarbaini dalam Mughni al-Muhtaj

Dalam kitab Mughni al-Muhtaj, Imam Khatib Syarbaini menjelaskan beberapa rincian hukum penting mengenai qurban:

Boleh Berkongsi dalam Pahala

Beliau menjelaskan:

“Jika seseorang menyembelih kambing untuk dirinya dan kerabatnya atau untuk dirinya dan memperkongsikan orang lain dalam hal pahala, maka itu boleh.”

Pendapat ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:

أنه صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين وقال
اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد

Artinya:
“Sesungguhnya Nabi SAW berqurban dengan dua ekor kambing dan beliau berkata: ‘Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad.’”

Tidak Boleh untuk Orang Hidup Tanpa Izin

Imam Khatib Syarbaini juga menegaskan bahwa qurban tidak boleh dilakukan untuk orang lain yang masih hidup tanpa izinnya karena qurban adalah ibadah, sedangkan asal hukum ibadah tidak boleh diwakilkan kecuali ada dalil.

Namun terdapat beberapa pengecualian:

  • Qurban seseorang untuk kerabatnya sehingga menghasilkan sunnah kifayah.
  • Qurban pemimpin dari harta baitulmal untuk kaum muslimin.
  • Qurban wali dari hartanya sendiri untuk orang yang berada dalam tanggungannya.

Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Beliau juga menjelaskan:

“Tidak ada qurban untuk orang yang sudah meninggal apabila tidak pernah mewasiatkannya.”

Dalil yang digunakan adalah firman Allah SWT:

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

Artinya:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Namun dalam Mazhab Syafi’i terdapat satu pendapat (wajh) yang membolehkan qurban untuk mayat walaupun tanpa wasiat, karena dianggap termasuk bentuk sedekah yang pahalanya dapat sampai kepada mayat.

Penjelasan Imam ar-Rafi’i

Imam ar-Rafi’i berkata:

“Satu kambing tidak dijadikan qurban kecuali untuk satu orang. Tetapi apabila qurban dilakukan oleh satu orang dari ahli bait, maka syiar dan sunnah qurban berlaku bagi seluruh anggota keluarga.”

Beliau kemudian mengaitkannya dengan hadis Rasulullah SAW:

اللهم تقبل من محمد وآل محمد

Sebagian ulama seperti pengarang kitab al-‘Iddah dan Syaikh Ibrahim al-Maruruzy memahami hadis ini sebagai bentuk tasyrik fil ajr yakni berkongsi dalam pahala, bukan berkongsi dalam kepemilikan qurban.

Qadha Qurban Menurut Ulama

Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab disebutkan:

“Apabila seseorang tidak melaksanakan qurban hingga habis waktunya, jika qurban itu sunnah maka tidak lagi dilaksanakan dan hilanglah kesunnahannya. Jika dilakukan pada tahun berikutnya maka itu menjadi qurban tahun kedua, bukan qurban tahun pertama. Namun jika qurban tersebut karena nazar, maka wajib dilaksanakan.”

Dengan demikian, qadha hanya berlaku untuk qurban wajib karena nazar, bukan qurban sunnah.

Pendapat Al-Taqiyuddin al-Dimasyqi

Al-Taqiyuddin al-Dimasyqi al-Syafi’i mengatakan:

“Tidak boleh qurban untuk orang yang sudah meninggal berdasarkan pendapat yang lebih sahih kecuali apabila orang tersebut pernah mewasiatkannya.”

Namun beliau membolehkan pelaksanaan qurban nazar yang sebelumnya telah diwajibkan oleh mayat sebelum meninggal dunia.

Hadis-Hadis Tentang Qurban untuk Orang Lain

1. Hadis Sayyidina Ali RA

عن حنش عن علي أنه كان يضحي بكبشين أحدهما عن النبي صلى الله عليه وسلم والآخر عن نفسه فقيل له فقال أمرني به يعني النبي صلى الله عليه وسلم فلا أدعه أبدا هذا حديث غريب

Artinya:
Dari Hanasy, dari Ali RA, sesungguhnya Ali berqurban dengan dua kambing, satu untuk Nabi SAW dan satu lagi untuk dirinya. Ketika ditanya, beliau menjawab: “Sesungguhnya Nabi SAW pernah memerintahkannya kepadaku, maka aku tidak akan meninggalkannya selama-lamanya.”
(HR. at-Tirmidzi)

Dalam al-Majmu’, Imam al-Baihaqi mengatakan:

“Jika hadis ini sahih, maka ia menjadi dalil atas bolehnya qurban untuk mayat.”

2. Hadis Aisyah RA

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بكبش أقرن يطأ في سواد ويبرك في سواد وينظر في سواد فأتي به فقال لها يا عائشة هلمي المدية ثم قال اشحذيها بحجر ففعلت ثم أخذها وأخذ الكبش فأضجعه ثم ذبحه ثم قال باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

Artinya:
Sesungguhnya Rasulullah SAW meminta seekor domba bertanduk yang berjalan, berlutut dan melihat dengan warna hitam, lalu dibawakan kepada beliau untuk disembelih sebagai qurban. Nabi berkata kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, bawakan pisau.” Kemudian beliau berkata: “Asahlah dengan batu.” Setelah itu Nabi mengambil pisau tersebut, membaringkan kambing dan menyembelihnya sambil membaca:
باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد
“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad.”
(Riwayat Muslim)

Imam ar-Ramli menjelaskan bahwa hadis tersebut dipahami sebagai berkongsi dalam pahala qurban, bukan berkongsi dalam kepemilikan hewan qurban.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan para ulama Mazhab Syafi’i, dapat disimpulkan beberapa poin penting:

  1. Qurban merupakan ibadah sehingga pada dasarnya tidak boleh digantikan oleh orang lain.

  2. Tidak boleh berqurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa izin, kecuali:

    • qurban seseorang untuk kerabatnya,
    • qurban imam dari baitulmal untuk kaum muslimin,
    • qurban wali dari hartanya untuk orang yang berada dalam pengampuannya.
  3. Dibolehkan seseorang berqurban untuk dirinya sekaligus menghadiahkan pahala kepada keluarga atau orang lain.

  4. Tidak ada qurban untuk orang yang telah meninggal apabila tidak pernah mewasiatkannya. Namun dalam Mazhab Syafi’i terdapat satu pendapat yang membolehkannya sebagai bentuk sedekah untuk mayat.

  5. Qadha qurban hanya berlaku pada qurban wajib karena nazar, sedangkan qurban sunnah yang terlewat tidak wajib diqadha.

Melalui penjelasan para ulama ini, umat Islam diharapkan dapat memahami ibadah qurban secara lebih mendalam sehingga pelaksanaannya tetap sesuai tuntunan syariat dan pendapat para ulama ahlussunnah wal jamaah.

Lebih baru Lebih lama