MENJEMPUT ILMU DENGAN BERSILATURRAHMI KEPADA ULAMA

Guru Dayah Kuta Krueng Bersilaturahmi dengan Abu Serambi Aceh
Dokumentasi Dewan Guru Dayah Kuta Krueng silaturahmi ke Abu Serambi Aceh

 


MENJEMPUT ILMU DENGAN BERSILATURRAHMI KEPADA ULAMA


Meraih Ilmu yang Barakah Melalui Adab dan Kedekatan dengan Ulama

Dalam tradisi Islam, khususnya di lingkungan dayah dan pesantren, ilmu bukan sekadar sesuatu yang dicari, tetapi sesuatu yang dijemput dengan penuh adab, kesungguhan, dan keberkahan. Para ulama terdahulu tidak hanya menuntut ilmu dengan membaca dan menghafal, tetapi juga dengan mendekatkan diri kepada guru, melayani mereka, serta menjaga silaturrahmi.


Salah satu jalan paling agung dalam menjemput ilmu adalah dengan bersilaturrahmi kepada para ulama. Sebab, di sanalah berkumpul cahaya ilmu, keberkahan hidup, dan bimbingan menuju ridha Allah SWT.


Ulama: Pewaris Nabi dan Pintu Ilmu

Allah SWT berfirman:

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”


Ayat ini menunjukkan kemuliaan ulama di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, sehingga paling takut dan paling dekat kepada-Nya.


Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan:

 إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”


Maka, mendekat kepada ulama melalui silaturrahmi berarti mendekat kepada warisan kenabian. Dari merekalah ilmu agama dijaga dan disampaikan dari generasi ke generasi.


Menjemput Ilmu Melalui Silaturrahmi

Silaturrahmi kepada ulama bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi merupakan bagian dari metode menuntut ilmu yang diajarkan oleh para salafus shalih.


1. Ilmu yang Barakah dan Berbekas

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan:

 لَا يَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِالتَّعْظِيمِ

“Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan memuliakan (guru).


Silaturrahmi adalah bentuk nyata memuliakan ulama. Dengan itu, ilmu yang diperoleh akan lebih mudah masuk ke dalam hati dan membawa keberkahan.


2. Terbukanya Pintu Hikmah

Banyak hikmah yang tidak tertulis dalam kitab, tetapi lahir dari kedekatan dengan ulama. Duduk bersama mereka, melihat akhlak mereka, dan mendengar nasihat mereka adalah bagian dari proses menjemput ilmu yang hakiki.


3. Menghidupkan Hati yang Lalai

Majelis ulama adalah majelis dzikir dan ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

 مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ... إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah… melainkan turun kepada mereka ketenangan.”



Silaturrahmi dengan ulama termasuk dalam majelis seperti ini yang menghidupkan hati dan menenangkan jiwa.


4. Mendapat Doa dan Ridha Guru

Dalam tradisi pesantren, keberhasilan seorang santri sangat bergantung pada ridha guru. Silaturrahmi membuka pintu doa dari ulama, dan doa orang shalih adalah sebab datangnya kebaikan.


5. Menjaga Sanad Keilmuan

Ilmu dalam Islam memiliki sanad (rantai keilmuan). Dengan bersilaturrahmi kepada ulama, seorang penuntut ilmu menjaga kesinambungan ilmu tersebut agar tetap bersambung kepada Rasulullah SAW.


Adab dalam Bersilaturrahmi kepada Ulama

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Di antara adab tersebut:

  • Ikhlas karena Allah SWT
  • Tawadhu’ di hadapan guru
  • Tidak mendahului atau memotong pembicaraan
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian
  • Mengamalkan ilmu yang didapat

Sebagaimana dikatakan:

 الْأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ

“Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.”


Dan juga nasihat ulama:

 مَنْ لَا أَدَبَ لَهُ لَا عِلْمَ لَهُ

“Siapa yang tidak memiliki adab, maka tidak ada ilmu baginya.”


Maka silaturrahmi tanpa adab tidak akan menghasilkan keberkahan, tetapi silaturrahmi yang disertai adab akan melahirkan ilmu yang hidup.


Penutup: Jalan Para Salaf

Menjemput ilmu dengan bersilaturrahmi kepada ulama adalah jalan yang telah ditempuh oleh para ulama salaf. Mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu seorang guru, demi satu hadits, demi satu nasihat.


Inilah pelajaran besar bagi kita: bahwa ilmu tidak cukup dicari, tetapi harus dijemput dengan adab, dengan kerendahan hati, dan dengan kedekatan kepada ulama.


Maka janganlah kita jauh dari ulama. Dekatlah dengan mereka, muliakan mereka, dan jaga silaturrahmi dengan penuh keikhlasan. Karena dari situlah akan lahir ilmu yang barakah, hati yang hidup, dan kehidupan yang diridhai Allah SWT.


 اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.



Lebih baru Lebih lama